Kampus sudah memberi fasilitas blog dengan CMS wordpress untuk setiap mahasiswanya, namun tampaknya tidak semua mahasiswa memanfaatkan blog ini. Mungkin ada beberapa alasan kenapa blog ini tidak dapat dimanfaatkan, diantaranya adalah
Unable to connect to the proxy server, merupakan salah satu peringatan yang paling sering muncul saat menggunakan internet kampus dengan proxy 3. Mungkin sedikit menjengkelkan ketika mau mengakses internet, peringatan seperti ini seringkali terjadi. Sehingga saya tidak dapat mengakses interet menggunakan jaringan yang ada di kampus. Beberapa kali memancing dengan membuka website internal PENS dan berhasil. Hal ini sering terjadi akhir-akhir ini jadi malas ngenet pakai proxy kampus. Pertanyaannya mengapa? Banyak teman-teman yang mengeluhkan hal seperti ini juga, namun entah kenapa cuma diam. Mungkin admin kampus tidak mengetahui masalah yang dihadapi oleh mahasiswa dengan proxy3.
Situs-situs yang paling sering dikunjungi oleh mahasiswa tidak akan mengalami hal seperti ini, seperti facebook, dll. Pada saat yang sama saya mengakses facebook semua berjalan lancar. Namun ketika saya buka tab baru untuk membuka halaman baru. Muncul lah Unable to connect proxy server. Saya coba refresh berulang kali namun tetap saja peringatan tersebut yang muncul. Namun di Tab browser yang sama saya bisa dengan lancar menggunakan facebook. Sebenarnya apa yang terjadi dengan jaringan di kampus? Saya sudah bosan untuk melakukan refresh di browser chromium yang saya gunakan.
Gak tau kenapa malam ini teramat gelisah dengan keadaan sehari-hari. Tiap hari dari pagi sampai sore kuliah, setelah itu ngobrol2 bentar di kampus. Baru setelah magrib kembali ke rumah dan mengerjakan tugas. Hampir tiap hari seperti itu. Malam ini mungkin puncak gelombang kejenuhan saat ini. Bisa jadi dimasa yang akan datang terjadi kejenuhan semacam ini. Jadi lahirlah tulisan penuh emosi ini untuk meluapkan segala kejenuhan yang ada. Saya tidak berniat untuk menggeneralisasikan opini saya dalam semua aspek dan pengalaman orang, karena sifat tulisan ini adalah murni subyektif dari apa yang SAYA alami setiap hari.
Mungkin banyak diluar sana yang menginginkan kuliah. Percaya gak percaya, alasan seseorang untuk lanjut kuliah kurang lebih
Buat mereka yang duduk di bangku SMA akan dengan mudah menyampaikan opini bahwa mereka tidak memiliki kemampuan / skill apapun setelah lulus. Memang jarang anak SMA yang begitu lulus memiliki skill, kecuali mereka yang memang senang dengan suatu hal. Sekarang pertanyaannya, gunanya sekolah SMA apa? Cuma buat selembar kertas bertuliskan ijazah kah? Atau hanya ikut-ikut guna menyukseskan wajib belajar 9 tahun. Toh percuma saja sudah wajib belajar sembilan tahun tetapi setelah itu tetap tidak tahu apa-apa.
Buat mereka yang sekolah di bangku SMK. Memang banyak yang langsung terjun di dunia kerja, lebih dari setengah lulusan SMK memang langsung bekerja. Hanya sedikit yang melanjutkan untuk duduk di bangku kuliah. Dan mereka yang melanjutkan ke bangku kuliah kebanyakan karena beberapa alasan berikut, yaitu disuruh orang tua, dan bingung mau ngapain setelah lulus karena tidak memiliki skill. Entah apa yang dilakukan saat sekolah selama 3 tahun di SMK.
Dari ketidak tahuan tersebut dipilihlah kuliah untuk mencari aman. Setidaknya ada kegiatan untuk mengisi waktu luang dan menghindari judge pengangguran oleh masyarakat di lingkungan sekitar. Dipilihlah universitas ternama dengan label negeri, sehingga mendapat nilai plus di lingkungan karena kuliah di tempat yang memiliki prestige. Sehingga tidak jarang menghalalkan segala macam cara untuk kuliah di salah satu tempat yang bonafit.
Mungkin ada beberapa yang benar-benar tahu apa tujuan kuliah, sehingga tahu apa saja yang harus dilakukan saat kuliah. Seperti bidang kedokteran misalnya, memang tidak bisa ditempuh tanpa kuliah. Namun bagi mereka yang sudah menemukan dimana passionnya dan bisa memperdalam passion tersebut tanpa kuliah, jangan sampai salah jurusan. Pelajari benar kurikulum yang disediakan oleh jurusan yang akan dituju. Jika banyak hal yang tidak ingin dipelajari karena bakal mengganggu tujuan utama kuliah (memperdalam passion) lebih baik tidak perlu dilanjutkan ke kuliah. Karena kuliah hanya akan membuang-buang waktu saja.
Hampir tiap pagi berangkat kuliah, teori praktikum seharian. Setelah itu sesampainya dirumah harus mengerjakan laporan. Entah harus sedih atau bahagia melihat banyak mahasiswa yang senang dengan kuliah. Karena sepulang kuliah berkumpul di suatu tempat untuk bermain game sampai berjam-jam. Tidak ingatkah dengan siapa yang berkorban untuk itu. Kalau sekali dua kali sih tidak masalah, namun hampir tiap hari hal tersebut dilakukan. Melihatnya orang-orang itu saja sudah bosan. Maka daripada itu lebih baik mengasingkan diri di pertapaan.
Kita akan senantiasa terkekang dengan apa yang ada dalam kuliah, meski terkadang hal tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang menjadi tujuan kita. Banyak orang bilang, semua pasti ada kaitannya, memang ada dan saat ini kita belum bisa merasakannya. Kita akan merasakan kalau sudah lepas darinya. Saya jadi kebayang bagaimana Steve Jobs kalau tetap melanjutkan kuliahnya sampai lulus, apakah ada yang namanya apple untuk saat ini? Terkadang hal yang kita pilih bisa saja menghambat kita untuk maju. Bukannya mau menyalahkan, karena masa depan yang benar hanya diketahui olehNya, terkadang manusia saja yang mendahului kehendakNya dengan ilmu-ilmu pasti tanpa pernah mempertimbangkan tangan yang tak tampak. Namun memang manusia tidak bisa mempertimbangkan tangan yang tak tampak, karena itu adalah kuasaNya
Tidak ada yang bisa disalahkan dalam kasus ini, mungkin karena memang system sudah dibentuk terlalu lama, dan kita sudah terlanjur larut di dalamnya. Hanya ada dua pilihan, mengikuti arus atau melawannya.
Jangan lupa kunjungi blogku lainnya ya
Mak Yem, merupakan salah satu warung legendaris bagi para civitas akademi di PENS. Mulai mahasiswa hingga dosen. Kalau belum pernah coba langsung coba saja di TMB, tidak begitu jauh dari Masjid depan kampus.
Sepertinya dampak kenaikan harga bawang dan brambang karena pembatasan import sudah berimbas pada warung ini. Kemarin lusa makan 1 porsi Nasi Lodeh + 1 Gelas Es Teh harganya 7rb. Tapi tadi makan dengan menu yang sama, harganya jadi 8rb. Padahal baru selisih 2 hari. Mungkin ini merupakan kabar buruk, terutama bagi mahasiswa seperti saya
. Demikian sekia
Beberapa bulan lalu sempat mendownload kalender akademik yang ada di kemahasiswaan.eepis-its.edu. Setelah melihat-lihat ada hal yang tidak biasa dalam kalender tersebut, yaitu “minggu tenang“. Jadi terbayang kegiatan cerita teman di universitas lain, tentang minggu tenang. Intinya minggu tenang adalah liburan menjelang ujian. Mungkin ini tradisi yang ingin dibentuk oleh PENS setelah melepaskan diri dari ITS, atau bagaimana saya kurang tahu. Perasaan di ITS memang ada minggu tenang.
Menanggapi adanya tradisi baru ini saya sebenarnya kurang setuju, saya akan coba paparkan dua alasan saya tidak setuju dengan adanya minggu tenang di PENS.
Minggu tenang berlangsung sekitar 1 minggu, waktu yang lumayan lah untuk bermalas-malasan. Bisa dibilang lebih dari cukup. Namun saya katakan nanggung karena setelah libur kita masuk langsung UAS, setelah itu libur lagi. Mungkin bagi yang rumahnya terjangkau di daerah Jawa Timur tidak masalah dengan adanya libur selama satu minggu bisa pulang pergi seenaknya, bagaimana dengan mereka yang rumahnya bisa dibilang jauh seperti yang ada di luar pulau jawa? Bukankah akan berfikir dua kali sebelum pulang, karena akan menghabiskan uang yang lumayan besar jika nekat untuk pulang. Bayangkan apa yang akan dilakukan selama seminggu di kos tanpa ada jadwal kuliah? Bukannya enak kuliah, langsung uas kemudian libur panjang tanpa ada potongan?
Bagi sebagian mahasiswa libur panjang menjelang UAS akan dimanfaatkan untuk belajar, namun ketika melihat keadaan sekitar saya pikir bakal banyak yang menggunakan libur menjelang UAS tersebut untuk bermain-main dan bersenang-senang. Saya sendiri termasuk dalam kategori tersebut, memang malas menyediakan waktu tersendiri untuk belajar, toh apa bedanya jika hanya belajar mendekati UAS dengan Sistem Belajar Musiman yang pernah saya tulis sebelumnya?
Beberapa minggu lalu, praktikum animasi 3D membuat sebuah roda dengan contur yang lumayan tebal, conturnya dibuat tidak menggunakan image texture yang diberi bump map maupun normal. Melainkan dengan modeling langsung. Dalam membuat laporan, terpikirkan untuk membuat timelapse yang biasanya dalam bentuk video. Karena laporannya di tuangkan dikertas, maka saya buat timelapse dengan gambar seperti komik. Semoga timelapse dibawah ini dapat bermanfaat
Hadiri semniar Basic Broadcasting Course yang diadakan oleh Hard Rock FM dan Mahasiswa Multimedia Broadcasting di Teater PENS pada hari Rabu, 14 November 2012. Mulai dari jam 13.00 sampai dengan selesai. GRATIS! Hanya untuk mahasiswa PENS.
Pendidikan selalu identik dengan bangunan yang berisi kelas. Saya sendiri pernah bersekolah di pedesaan maupun kota. Saat SMP saya bersekolah di SMP Negeri 1 Ngadirojo Pacitan, sedangkan untuk SMK saya bersekolah di SMK Negeri 1 Surabaya. Banyak sekali kesenjangan antara sekolah di desa dan daerah, meski keduanya sama-sama di pulau Jawa. Apalagi di luar jawa yang dapat kita saksikan melalui media. Sungguh memprihatinkan. Saya sendiri tidak habis pikir kenapa hal tersebut bisa terjadi, prioritas pengembangan mungkin menjadi salah satu alasan, namun menurut saya kesenjangan tersebut sudah keterlaluan.
Saat saya SMP, saya benar-benar merasakan bagaimana menjadi seorang anak desa. Dimana kegiatan sehari-hari hanya sekolah sampai pukul 12.30 setelah itu bisa bersantai tanpa harus mengikuti bermacam-macam les seperti yang dilakukan oleh banyak anak di kota. Beruntung tempat saya tinggal tidak begitu jauh dari SMP 1, yang merupakan satu dari 3 SMP Negeri di sana kala itu. Jaraknya sekitar 2 – 3 kilometer dapat ditempuh dengan mengayuh sepeda.
Saya akui kehidupan di desa cukup mengasyikkan dan bisa dipastikan sulit sekali ditemukan bahkan mungkin tidak ada di Kota seperti Surabaya tempat saya tinggal saat ini. Merumput di sore hari untuk makan ternak yang kala itu seekor kelinci besar. Berkeliaran dihutan untuk mencari tanaman bonsai, saat itu sedang musim bonsai pohon serut. Mencari kepiting (yuyu) sungai untuk memancing, terkadang untuk lauk diolah menjadi makanan bernama bothok (bothok kepiting biasanya disebut kendo). Berburu kalong saat malam hari musim pohon randu. Masih banyak kegiatan luar biasa yang pernah saya alami di desa.
Terkadang saya tidak habis pikir dengan kemauan kuat teman saya untuk sekolah, jarak antara sekolah antara 10 – 20 kilometer, meski ada yang dapat ditempuh dengan naik kendaraan umum seperti bis, namun ada juga teman saya yang harus berangkat subuh untuk turun gunung kemudian berangkat naik sepeda dengan jarak sekitar 7 – 10 kilometer. Semangat mereka benar-benar luar biasa. Dengan uang saku sekitar Rp. 500 – 1000 per hari sudah lebih dari cukup meski sebenarnya kurang. Banyak hal yang dapat dipelajari dari hal-hal kecil disekeliling saya saat itu. Hal ini membuat saya rajin untuk mengerjakan tugas. Hampir tidak ada tugas yang terlewatkan kala itu.
Handphone yang kini sudah dimiliki oleh anak SD, dulu tidak ada sama sekali. Karena meskipun ada tetapi tidak dapat digunakan di sana, karena tidak ada jaringan. Selain itu internet pun masuk desa saya saat saya sudah pergi dari sana dan melanjutkan sekolah di Surabaya. Saya bersyukur disana jauh dari teknologi karena dari situ saya belajar untuk datang tepat waktu, bahkan cenderung datang lebih awal.
Bahasa jawa yang merupakan bahasa daerah saya pun cukup fasih dibanding dengan teman-teman saya saat di Surabaya. Hal tersebut terbentuk karena keakraban yang ada di warga sekitar, tidak pandang umur dan macam-macam, namun ada sisi negatifnya juga. Berkurangnya tingkat kesopanan terhadap yang lebih tua.
Itulah yang dapat saya bagikan dari desa tempat saya belajar dulu, sekarang saya bandingkan dengan pendidikan di Kota yang pernah saya alami, bahkan sampai saat ini. Benar-benar terlalu jauh perbedaannya. Meski sama-sama di pulau jawa.
Fasilitas sekolah di kota jauh lebih baik dengan yang ada di desa, setidaknya semua itu memudahkan para siswa yang ada dikota. Jalanan sudah beraspal, bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor, kendaraan umum dan yang lain. Kurang apa coba? Namun masih banyak saja yang terlambat. Tidakkah seorang siswa dapat memperkirakan waktu yang dihabiskan di perjalanan (termasuk waktu macet)? Terlalu banyak alasan klasik untuk hal tersebut seperti bangun kesiangan, tidak dapat kendaraan dan lainnya. Salah satu alasan yang digunakan oleh salah satu teman saya saat itu adalah tidak ada kendaraan. Dan itu memang benar, namun saya tidak yakin itu yang membuat dia terlambat. Lha wong rumahnya berada di daerah belakang sekolah. Itupun masih mengeluh, saya jadi teringat perjuangan teman-teman saya di desa dulu. Mungkin kota bisa lebih baik dengan hal seperti itu.
Komunikasi di kota sangat lancar, bahkan jauh lebih lancar dari yang ada di desa. Entah kenapa setiap ada janji bertemu selalu datang lebih lambat dari jadwal yang sudah disepakati. Kalau cuma sepuluh sampai dua puluh menit itu tidak masalah, masalahnya keterlambatan itu terkadang lebih dari setengah jam. Setengah jam bukan waktu yang sebentar, bisa jadi ketika saya sudah sampai mereka masih dirumah dan masih mau berangkat. Lambat laun dengan lancarnya segala macam saya kadang tidak mengerjakan tugas. Berbeda jauh dengan kerajinan saya saat masih di desa dulu.
Bahasa jawa yang merupakan bahasa daerah termasuk di Surabaya tidak begitu melekat. Cuma bahasa jawa ngoko yang begitu kental dengan logat Surabaya. Pernah suatu ketika bermain ke rumah teman saya dan bertemu kakeknya. Teman saya malah tidak banyak bicara dengan kakek saya lantaran bahasa jawanya kacau dan tidak paham dengan bahasa jawa yang tingkatannya sedikit diatas ngoko. Jadi kakeknya pun lebih banyak mengobrol dengan saya.
Dari beberapa perbandingan diatas saya mengambil kesimpulan bahwa mereka yang bersekolah di kota dengan fasilitas mumpuni cenderung lebih manja dibandingkan dengan mereka yang berada di desa. Di kota segalanya sudah siap pakai, berbeda dengan di desa yang serba terbatas. Mereka yang sekolah dikotapun cenderung sering mengeluh padahal sudah benar-benar dimudahkan. Berbeda dengan mereka yang berada di desa yang harus survive belajar dalam keterbatasan. Kasarannya dikota anaknya cenderung lebih manja dibandingkan mereka yang ada di desa.
Coba tengok bangunan-bangunan dikota, jauh lebih bagus bahkan yang masih bagus terus direnovasi. Sedangkan yang ada di beberapa media tampak bangungan-bangunan sekolah di desa hampir roboh, ada pula yang hanya bersekolah di sebuah gubug. Saya kurang tahu dengan sistem perekonomian, bagaimana pembagaian anggaran untuk masing-masing wilayah. Namun sampai kapan mereka yang ada di daerah, khususnya luar jawa akan merasakan keterbatasan yang keterlaluan seperti ini?
Semoga kesenjangan seperti ini dapat segera diminimalisir, setidaknya tidak sampai keterlaluan sampai bangunan hampir roboh dan segalanya. Setidaknya berikan fasilitas yang memadai untuk mereka yang ada di daerah. Tidak perlu canggih dan lengkap cukup berikan yang LAYAK dan MEMADAI. Akan bangkit pemuda-pemuda berkarakter dengan semangat meski dalam keterbatasan.

Korupsi sudah mendarah daging di Indonesia. Banyak cara yang sudah dilakukan untuk memberantas korupsi, namun banyak juga cara-cara untuk menghambatnya. Berikut program saya Jika saya menjadi ketua KPK:
Sekitar 3 minggu lalu saya posting tentang maraknya sampah kegiatan-kegiatan mahasiswa yang ‘dimaklumi‘ hingga mendapat tanggapan dari Humas Kampus dan beberapa dosen. Beberapa waktu lalu sempat bersih-bersih salah satu pohon yang menjadi korban. Parahnya di pohon tersebut, ada tali rafia yang sudah menyatu dengan batang pohon. Pertanyaannya berapa lama tali tersebut terikat di pohon? Saat ini hanya Allah yang tahu. Karena yang masang pun kemungkinan besar sudah lupa. bahkan tidak sadar.
Poster diatas dengan stempel PENS, sudah ditempelkan di beberapa mading, seperti D4, D3 dan kantin. Nyatanya tidak membawa banyak perubahan. Padahal spot-spot penempelan poster tersebut sudah sangat strategis, dimana mading merupakan hal yang sering diperhatikan mahasiswa. Bahkan besarnya poster tersebut tidak akan membuat mata acuh, setidaknya mahasiswa sudah melihat dan membaca. Tidakkah mahasiswa yang berpendidikan bisa membaca pesan implisit dalam gambar tersebut yang menunjukkan seorang mahasiswa yang memotong rafia di pohon? Perlukah dalam poster ditambahkan tulisan bershikan tali rafia yang di pohon setelah memasang banner?
Ayolah, katanya sudah MAHAsiswa? Bukankah itu yang sering diucapkan saat musim pengkaderan mahasiswa baru? Apa perlu pohonnya saja yang ditebang sehingga tidak ada tempat lagi untuk memasang banner di spot-spot strategis? Masa harus orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan banner yang harus turun tangan membersihkannya? Dimana tanggung jawab kalian sebagai mahasiswa(kalimat ini juga sering dilontarkan kepada mahasiswa baru)? Dimana juga integritasnya? Menyuruh para maba untuk jaga kebersihan nyatanya yang ngomong tidak melaksanakannya. Mana mau mabanya mengerjakan sedangkan yang menyuruh / menghimbau tidak mengerjakannya. Mungkin karena ini sudah turun-temurun dari beberapa generasi. Cuma sebagai ucapan semata bukti formalitas saat penyambutan mahasiswa baru.
Padahal saya bangga dengan kampus ini atas kebersihannya. Beberapa kali saya masuk ke kampus-kampus negeri di daerah Surabaya, Solo, Jogja, tidak ada yang sebersih PENS. Bukankah kebersihan juga merupakan tanggung jawab individu? atau kini sudah beralih tanggung jawab lantaran ada petugas kebersihan? Tidak heran jika di jalan-jalan pemasangan spot juga mengalami hal serupa. Bekas tali rafia yang menebal menutupi tiang pemasangan. Tidak adakah keinginan untuk lebih baik? Dimulai dari hal yang kecil untuk perubahan lebih baik.
Tulisan ini bisa menjadi pro dan kontra, tergantung sudut pandang pembaca. Cobalah untuk membaca dengan kacamata yang obyektif. Semoga quote di bawah ini dapat menginspirasi
Akan tiba nanti masa di mana menggenggam nilai-nilai kebenaran itu seperti menggenggam bara api. Jika kau pegang terus kebenaran itu, maka tanganmu akan terbakar dan sungguh sakit luar biasa. Tapi jika kau tak tahan menggenggamnya, lepaslah kebenaran itu dari tanganmu dan datanglah kesesatan dalam hidupmu
Mari Jaga kebersihan mulai diri sendiri untuk Indonesia lebih baik, bukankah itu salah satu bentuk sederhana dari peran fungsi mahasiswa berupa agent of change?